Jumat, 22 Juli 2022

LAPORAN PRAKTIKUM URINALISA

A.    Pertemuan praktikum ke           : 3

B.     Judul                                            : Pemeriksaan Sedimen Urine dan Pelaporan Hasil

C.    Metode                                         : Urinalisa Mikroskopis

D.    Tujuan                                         : Untuk mengetahui kualitas urin secara mikroskopis

E.     Prinsip                                         

Untuk melihat adanya sel-sel kristal dan sebagainya dalam urine maka dilakukan pemeriksaan di bawa mikroskop. Hal ini dikerjakan dengan melakukan pemusingan pada kecepatn tertentu dan waktu tertentu sehingga elemen-elemen tersebut terpisah darisupernatannya.

F.     Manfaat

Untuk mengidentifikasi jenis sedimen yang digunakan untuk mengidentifikasi kelainan ginjal dan saluran kemih.

Untuk memantau jalannya penyakit ginjal dan saluran kemih setelah pengobatan.

G.    Tinjauan Teori

Urin merupakan bahan buangan dari tubuh berbentuk cair yang dikeluarkan melalui sistem sistem urogenital. Urine yang didapatkan tidak perlu ada perlakukan khusus, kecuali pemeriksaan harus segera dilakukan sebelum 1 jam, sedangkan untuk pemeriksaan sedimen harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu melalui sentrifuge.

Urinalisis berasal dari bahasa Inggris urinalysys yang merupakan gabungan dari kata urine dan analysis. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) mengartikan urinalisis sebagai “pemeriksaan secara kimiawi dan dengan mikroskopis terhadap air kencing” (p. 1252). Urinalisis adalah pemeriksaan sampel urine secara fisik, kimia, dan mikroskopik (Gandasoebrata, 2013).

Pemeriksaan mikroskopik diperlukan untuk mengamati sel dan benda berbentuk partikel lainnya. Banyak macam unsur mikroskopik dapat ditemukan baik yang ada kaitannya dengan infeksi (bakteri, virus) maupun yang bukan karena infeksi misalnya perdarahan, disfungsi endotel dan gagal ginjal.

Dalam pemeriksaan sedimen yang diperiksa adalah zat sisa metabolisme yang berupa kristal, granula, , dan termasuk bakteri. Dengan pemeriksaan sedimen maka keberadaan suatu benda normal ataupun tidak normal yang terdapat dalam urin kita akan dapat menunjukkan keadaan organ tubuh. Dalam urine yang ditemukan jumlah eritrosit jauh diatas angka normal bisa menunjukkan terjadinya perdarahan di saluran kemih bagian bawah. Begitu juga dengan ditemukannya kristal-kristal abnormal dapat diprediksi jika seseorang beresiko terkena batu ginjal, karena kristal-kristal dalam urin merupakan pemicu utama terjadinya endapan kristal dalam saluran kemih terutama ginjal yang jika dibiarkan berlanjut.

Unsur-unsur sedimen seperti, epitel atau kristal cukup dilaporkan dengan (+) ada, (++) banyak, dan (+++) banyak sekali. Unsur sedimen dibagi menjadi unsur organik dan anorganik. Unsur organik ialah unsur yang berasal dari suatu organ yang terdiri dari epitel, eritrosit, leukosit, silinder, potongan jaringan, spermabakteri, parasit, epitel renal dan transisional, lemak, jamur, dan trichomonas. Sedangkan unsur anorganik ialah unsur dari suatu organ atau jaringan yang terdiri dari asam urat, amorf, dan kristal. 

H.    Prosedur kerja

1.      Pra Analitik

1)      Persiapan pasien

2)      Persiapan sampel : Urine sewaktu, urine pagi

3)      Persiapan alat dan bahan

-          Centrifuge

-          Tabung centrifuge

-          Pipet tetes

-          Objek glass

-          Deck glass

-          Mikroskop

-          Rak tabung reaksi

-          Sampel urine

2.      Analitik

1)      Menghomogenkan urine secara perlahan dan sempurna

2)      Memasukkan urine ke dalam tabung centrifuge ¾ penuh

3)      Melakukan pemusingan dengan centrifuge selama 5 menit pada kecepatan 1500-2000 rpm

4)      Membuang supernatan dengan menuangkan isi tabung secara cepat dan tanpa bergetar dengan endapan posisi di bagian bawah

5)      Mengocok tabung untuk mensuspensikan sedimen

6)      Meletakkan 2 tetes sedimen terpisah ke atas sebuah objek glass dengan deck glass

7)      Memeriksan sedimen dengan mikroskop perbesaran (10x) sebagai LPK dan perebsarab (40x) sebagai LPB

I.       Hasil dan Dokumentasi

Sedimen

Kriteria

Pengamatan

A.    Organik

Bentuk

Jumlah

 

Lpb

Lpk

Eritrosit

Urin Normal, ȹ 7 µ dan tebal 2 µ. Bulat berbatas tegas, tampak bercahaya kuning kehijauan 0-1/Lpb.

Urin hipertonik bergerigi, urin hipertonik, bengkak, mudah lisis dan lepas Hb. (ghost cell).

 

*

 

Leukosit

< 5/Lpb (0-4), bundar, batasnya tepi kurang jelassitoplasma bergranula sitoplasma abu – abu suram atau hijau kekuningandengan inti berwarna gelap.

ɸ 10 – 12 µ. Urin hipotonik leukosit membengkak = blitter cell.

 

*

 

Epitel

Epitel gepeng : (+) tampak datar, sitoplasma luas, ireguler inti besar

Dibagian tengah.sering dijumpai kurang bermakna

 

 

 

*

 

Epitel transisional : (-) bermakna, disebut sel berekor seperti buah pear < kecil dari epitel gepeng, inti ditengah

_

*

 

 

Epitel tubuler : (-) bermakna, tampak seperti leukosit, ukuran > besar dari leukosit dan mempunyai inti tunggal

_

*

 

Silinder

a.       Silinder Hialin : 0-2/Lpk

b.      Silinder seluler : (-)

·         Silinder eritrosit

·         Silinder leukosit

·         Silinder epitel

·         Silinderberbutir

·         Silinder lemak

·         Silinder lilin

·         Silinder pigmen

Silinder hialin

 

*

Lemak

Oval fatbodies

 

 

*

Mocous thrends

Ada sedikit (benang-benang lendir)

 

 

*

Silindroid

Mirip silinder ujungnya seperti benang lendir

 

 

*

Ragi

Berbentuk bulat

 

*

 

Bakteri

Batang

Coccus

 

*

 

Parasit

(-)

 

*

 

Telur cacing

(-)

 

*

 

Spermatozoa

(-)/(+)

 

 

 

Candida

(-)

 

*

 

Schistosoma haematobium

(-)

 

*

 

B.     ANORGANIK

 

 

 

 

Asam urat

Urin asam, (+); seperti prisma, kuning kecoklatan

 

*

 

Calsium oxalat

(+);okta hedral/amplop mengkillat

 

*

 

Tripel fosfat

Urin netral/alkali; (+) tidak berwarna, mempunyai 3-6 sisi

Tyrocyne Crystals

 

 



J.    Nilai Normal

Silinder (Lpk)

-

0-2

2-5

5-10

10-25

25-50

> 50

Kristal abnormal (Lpk)

-

0-2

2-5

5-10

10-25

25-50

>50

Kristal Normal (LPK)

-

 

( +  )

 

( ++  )

 

( +++ )

Eritrosit ( Lpb )

0-2

2-5

5-10

10-25

25-50

50-99

>100

Leukosit ( Lpb )

0-2

2-5

5-10

10-25

25-50

50-99

>100

Squamos ( Lpk )

0-2

2-5

5-10

10-25

25-50

50-99

>100

Epitel Lain ( Lpb )

0-2

2-5

5-10

10-25

25-50

50-99

>100

Bakteri,Jamur,Trichomonas ( Lpb )

 

( + )

 

( ++ )

 

 

( +++ )

Sperma ( Lpb )

 

( + )

 

( ++ )

 

 

( +++ )

(+) = Sedikit = ada beberapa

( ++ ) = cukup =mudah dilihat

( +++ ) = Banyak = tampak menyolok

 

K.     Kesimpulan

Ditemukannya unsur organik dan anorganik pada urine yang diamati. Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan pengamataan sediaan mikroskopis menggunakan lensa objektif kecil (10X) yang dinamakan lapangan pandang kecil (LPK). Selain itu dipakai lensa objektif besar (40X) yang dinamakan lapangan penglihatan besar (LPB). 

L.    Pembahasan

Dari pemeriksaan sedimen urine yang dilihat dengan menggunakan mikroskop, didapat beberapa kristal, yaitu berupa kristal asam urat, cystine dan urat amorf. Hal ini tidak begitu menjadi suatu kasus besar dalam keadaan tubuh urine percobaan. Kristal dalam urin tidak ada hubungan langsung dengan batu di dalam saluran kemih. Kristal asam urat, kalsium oksalat, triple fosfat dan bahan amorf merupakan kristal yang sering ditemukan dalam sedimen dan tidak mempunyai arti, karena kristal-kristal itu merupakan hasil metabolisme yang normal. Terdapatnya unsur tersebut tergantung dari jenis makanan, banyak makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urin. Di samping itu mungkin didapatkan kristal lain yang berasal dari obat-obatan atau kristal-kristal lain seperti kristal tirosin, kristal leucin.
Tapi dalam hal Batu ginjal biasanya terdiri dari tipe kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam urea, struvite, dan cystine.

Dalam praktikum ini didapati cystine, cystine bisa menyebabkan sistinuria. Sistinuria (Cystinuria) adalah suatu penyakit yang jarang terjadi, yang menyebabkan dikeluarkannya asam amino sistin ke dalam air kemih dan seringkali menyebabkan pembentukan batu sistin di dalam saluran kemih. Bisanya karena ada kelainan pada tubulus renalis yang bersifat menurun.

M.    Daftar Pustaka

Atmojo, Andi Tri. 2016. Pemeriksaan Sedimen Urine. Diakses dari

https://medlab.id/category/instruksi-kerja/urinalisis/ pada tanggal 19 Agustus 2020 

Karim, Yani Ode. 2016. Sedimentasi Urin. Diakses dari

http://yanialkarim.blogspot.com/2016/01/sedimentasi-urin.html pada tanggal 19 Agustus 2020.

Laka, Rizka. 2016. LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA KLINIK. Diakses dari

https://www.academia.edu/27453137/LAPORAN_AKHIR_PRAKTIKUM_KIMIA_KLINIK_KELOMPOK_III pada tanggal 19 Agustus 2020.

Pardiyatno, E. 2019. BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Diakses dari

http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/1054/4/Chapter2.pdf pada tanggal 19 Agustus 2020.

Riswanto. 2006. Urinalisis 2 (Analisis Mikroskopik). Diakses dari

http://labkesehatan.blogspot.com/2010/02/urinalisis-2-analisis-mikroskopik.html pada tanggal 19 Agustus 2020.

Santhi, Dharma dkk. 2015. PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK I. Diakses dari

https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_pendidikan_dir/ad27f38f5b77da9a58ec5184b3994081.pdf  pada tanggal 19 Agustus 2020.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


LAPORAN PRAKTIKUM URINALISA

A.     Pertemuan praktikum ke           : 3 B.      Judul                                            : Pemeriksaan Sedimen Urine dan Pelapor...