A.
Pertemuan praktikum ke : 3
B.
Judul :
Pemeriksaan Sedimen Urine dan Pelaporan Hasil
C.
Metode :
Urinalisa Mikroskopis
D.
Tujuan :
Untuk mengetahui kualitas urin secara mikroskopis
E.
Prinsip
Untuk melihat adanya sel-sel kristal dan sebagainya
dalam urine maka dilakukan pemeriksaan di bawa mikroskop. Hal ini dikerjakan
dengan melakukan pemusingan pada kecepatn tertentu dan waktu tertentu sehingga
elemen-elemen tersebut terpisah darisupernatannya.
F.
Manfaat
Untuk mengidentifikasi jenis sedimen yang digunakan
untuk mengidentifikasi kelainan ginjal dan saluran kemih.
Untuk memantau jalannya penyakit ginjal dan saluran
kemih setelah pengobatan.
G.
Tinjauan Teori
Urin merupakan bahan buangan dari tubuh berbentuk
cair yang dikeluarkan melalui sistem sistem urogenital. Urine yang didapatkan
tidak perlu ada perlakukan khusus, kecuali pemeriksaan harus segera dilakukan
sebelum 1 jam, sedangkan untuk pemeriksaan sedimen harus dilakukan pengolahan
terlebih dahulu melalui sentrifuge.
Urinalisis berasal dari bahasa Inggris urinalysys
yang merupakan gabungan dari kata urine dan analysis. Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2001) mengartikan urinalisis sebagai “pemeriksaan secara kimiawi dan
dengan mikroskopis terhadap air kencing” (p. 1252). Urinalisis adalah
pemeriksaan sampel urine secara fisik, kimia, dan mikroskopik (Gandasoebrata,
2013).
Pemeriksaan
mikroskopik diperlukan untuk mengamati sel dan benda berbentuk partikel
lainnya. Banyak macam unsur mikroskopik dapat ditemukan baik yang ada kaitannya
dengan infeksi (bakteri, virus) maupun yang bukan karena infeksi misalnya
perdarahan, disfungsi endotel dan gagal ginjal.
Dalam pemeriksaan
sedimen yang diperiksa adalah zat sisa metabolisme yang berupa kristal,
granula, , dan termasuk bakteri. Dengan pemeriksaan sedimen maka keberadaan
suatu benda normal ataupun tidak normal yang terdapat dalam urin kita akan
dapat menunjukkan keadaan organ tubuh. Dalam urine yang ditemukan jumlah
eritrosit jauh diatas angka normal bisa menunjukkan terjadinya perdarahan di
saluran kemih bagian bawah. Begitu juga dengan ditemukannya kristal-kristal
abnormal dapat diprediksi jika seseorang beresiko terkena batu ginjal, karena
kristal-kristal dalam urin merupakan pemicu utama terjadinya endapan kristal
dalam saluran kemih terutama ginjal yang jika dibiarkan berlanjut.
Unsur-unsur sedimen
seperti, epitel atau kristal cukup dilaporkan dengan (+) ada, (++) banyak, dan
(+++) banyak sekali. Unsur sedimen dibagi menjadi unsur organik dan anorganik.
Unsur organik ialah unsur yang berasal dari suatu organ yang terdiri dari
epitel, eritrosit, leukosit, silinder, potongan jaringan, spermabakteri,
parasit, epitel renal dan transisional, lemak, jamur, dan trichomonas.
Sedangkan unsur anorganik ialah unsur dari suatu organ atau jaringan yang
terdiri dari asam urat, amorf, dan kristal.
H. Prosedur kerja
1.
Pra Analitik
1)
Persiapan pasien
2)
Persiapan sampel : Urine sewaktu, urine pagi
3)
Persiapan alat dan bahan
-
Centrifuge
-
Tabung centrifuge
-
Pipet tetes
-
Objek glass
-
Deck glass
-
Mikroskop
-
Rak tabung reaksi
-
Sampel urine
2.
Analitik
1)
Menghomogenkan urine secara perlahan dan sempurna
2)
Memasukkan urine ke dalam tabung centrifuge ¾ penuh
3)
Melakukan pemusingan dengan centrifuge selama 5 menit
pada kecepatan 1500-2000 rpm
4)
Membuang supernatan dengan menuangkan isi tabung secara
cepat dan tanpa bergetar dengan endapan posisi di bagian bawah
5)
Mengocok tabung untuk mensuspensikan sedimen
6)
Meletakkan 2 tetes sedimen terpisah ke atas sebuah objek
glass dengan deck glass
7)
Memeriksan sedimen dengan mikroskop perbesaran (10x)
sebagai LPK dan perebsarab (40x) sebagai LPB
I. Hasil dan Dokumentasi
|
Sedimen |
Kriteria |
Pengamatan
|
||
|
A. Organik
|
Bentuk
|
Jumlah
|
||
|
|
Lpb |
Lpk
|
||
|
Eritrosit
|
Urin
Normal, ȹ 7 µ dan tebal 2 µ. Bulat berbatas tegas, tampak bercahaya kuning
kehijauan 0-1/Lpb. Urin
hipertonik bergerigi, urin hipertonik, bengkak, mudah lisis dan lepas Hb.
(ghost cell). |
|
* |
|
|
Leukosit
|
<
5/Lpb (0-4), bundar, batasnya tepi kurang jelassitoplasma bergranula
sitoplasma abu – abu suram atau hijau kekuningandengan inti berwarna gelap. ɸ
10 – 12 µ. Urin hipotonik leukosit membengkak = blitter cell. |
|
* |
|
|
Epitel |
Epitel
gepeng : (+) tampak datar, sitoplasma luas, ireguler inti besar Dibagian
tengah.sering dijumpai kurang bermakna
|
|
|
* |
|
|
Epitel
transisional : (-) bermakna, disebut sel berekor seperti buah pear < kecil
dari epitel gepeng, inti ditengah |
_ |
* |
|
|
|
Epitel
tubuler : (-) bermakna, tampak seperti leukosit, ukuran > besar dari
leukosit dan mempunyai inti tunggal |
_ |
* |
|
|
Silinder |
a. Silinder
Hialin : 0-2/Lpk b. Silinder
seluler : (-) ·
Silinder eritrosit ·
Silinder leukosit ·
Silinder epitel ·
Silinderberbutir ·
Silinder lemak ·
Silinder lilin ·
Silinder pigmen |
Silinder
hialin |
|
* |
|
Lemak |
Oval
fatbodies |
|
|
* |
|
Mocous
thrends |
Ada
sedikit (benang-benang lendir) |
|
|
* |
|
Silindroid |
Mirip
silinder ujungnya seperti benang lendir |
|
|
* |
|
Ragi |
Berbentuk
bulat |
|
* |
|
|
Bakteri |
Batang Coccus |
|
* |
|
|
Parasit |
(-) |
|
* |
|
|
Telur
cacing |
(-) |
|
* |
|
|
Spermatozoa
|
(-)/(+) |
|
|
|
|
Candida |
(-) |
|
* |
|
|
Schistosoma
haematobium |
(-) |
|
* |
|
|
B. ANORGANIK |
|
|
|
|
|
Asam urat |
Urin
asam, (+); seperti prisma, kuning kecoklatan |
|
* |
|
|
Calsium oxalat |
(+);okta
hedral/amplop mengkillat |
|
* |
|
|
Tripel fosfat |
Urin
netral/alkali; (+) tidak berwarna, mempunyai 3-6 sisi |
Tyrocyne
Crystals |
|
|
J.
Nilai Normal
|
Silinder
(Lpk) |
- |
0-2 |
2-5 |
5-10 |
10-25 |
25-50 |
> 50 |
|
Kristal
abnormal (Lpk) |
- |
0-2 |
2-5 |
5-10 |
10-25 |
25-50 |
>50 |
|
Kristal
Normal (LPK) |
- |
|
( + ) |
|
( ++ ) |
|
( +++ ) |
|
Eritrosit
( Lpb ) |
0-2 |
2-5 |
5-10 |
10-25 |
25-50 |
50-99 |
>100 |
|
Leukosit
( Lpb ) |
0-2 |
2-5 |
5-10 |
10-25 |
25-50 |
50-99 |
>100 |
|
Squamos
( Lpk ) |
0-2 |
2-5 |
5-10 |
10-25 |
25-50 |
50-99 |
>100 |
|
Epitel
Lain ( Lpb ) |
0-2 |
2-5 |
5-10 |
10-25 |
25-50 |
50-99 |
>100 |
|
Bakteri,Jamur,Trichomonas
( Lpb ) |
|
( + ) |
|
( ++ ) |
|
|
( +++ ) |
|
Sperma
( Lpb ) |
|
( + ) |
|
( ++ ) |
|
|
( +++ ) |
|
(+)
= Sedikit = ada beberapa |
|||||||
|
(
++ ) = cukup =mudah dilihat |
|||||||
|
(
+++ ) = Banyak = tampak menyolok |
|||||||
K.
Kesimpulan
Ditemukannya unsur organik dan anorganik pada urine
yang diamati. Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan pengamataan
sediaan mikroskopis menggunakan lensa objektif kecil (10X) yang dinamakan
lapangan pandang kecil (LPK). Selain itu dipakai lensa objektif besar (40X)
yang dinamakan lapangan penglihatan besar (LPB).
L.
Pembahasan
Dari pemeriksaan sedimen urine yang dilihat dengan
menggunakan mikroskop, didapat beberapa kristal, yaitu berupa kristal asam
urat, cystine dan urat amorf. Hal ini tidak begitu menjadi suatu kasus besar
dalam keadaan tubuh urine percobaan. Kristal dalam urin tidak ada hubungan
langsung dengan batu di dalam saluran kemih. Kristal asam urat, kalsium
oksalat, triple fosfat dan bahan amorf merupakan kristal yang sering ditemukan
dalam sedimen dan tidak mempunyai arti, karena kristal-kristal itu merupakan
hasil metabolisme yang normal. Terdapatnya unsur tersebut tergantung dari jenis
makanan, banyak makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urin. Di samping
itu mungkin didapatkan kristal lain yang berasal dari obat-obatan atau
kristal-kristal lain seperti kristal tirosin, kristal leucin.
Tapi dalam hal Batu ginjal biasanya terdiri dari tipe kalsium oksalat, kalsium
fosfat, asam urea, struvite, dan cystine.
Dalam praktikum ini didapati cystine, cystine bisa
menyebabkan sistinuria. Sistinuria (Cystinuria) adalah suatu penyakit yang
jarang terjadi, yang menyebabkan dikeluarkannya asam amino sistin ke dalam air
kemih dan seringkali menyebabkan pembentukan batu sistin di dalam saluran
kemih. Bisanya karena ada kelainan pada tubulus renalis yang bersifat menurun.
M.
Daftar Pustaka
Atmojo,
Andi Tri. 2016. Pemeriksaan Sedimen
Urine. Diakses dari
https://medlab.id/category/instruksi-kerja/urinalisis/ pada tanggal 19 Agustus 2020
Karim,
Yani Ode. 2016. Sedimentasi Urin.
Diakses dari
http://yanialkarim.blogspot.com/2016/01/sedimentasi-urin.html
pada tanggal 19 Agustus 2020.
Laka,
Rizka. 2016. LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
KIMIA KLINIK. Diakses dari
https://www.academia.edu/27453137/LAPORAN_AKHIR_PRAKTIKUM_KIMIA_KLINIK_KELOMPOK_III pada tanggal 19 Agustus 2020.
Pardiyatno,
E. 2019. BAB II TINJAUAN PUSTAKA.
Diakses dari
http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/1054/4/Chapter2.pdf pada tanggal 19 Agustus 2020.
Riswanto.
2006. Urinalisis 2 (Analisis
Mikroskopik). Diakses dari
http://labkesehatan.blogspot.com/2010/02/urinalisis-2-analisis-mikroskopik.html pada tanggal 19 Agustus 2020.
Santhi,
Dharma dkk. 2015. PENUNTUN PRAKTIKUM
KIMIA KLINIK I. Diakses dari
https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_pendidikan_dir/ad27f38f5b77da9a58ec5184b3994081.pdf pada tanggal 19 Agustus 2020.
.png)
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar